Beberapa keunikan kata dalam bahasa inggris terangkum dalam beberapa fakta berikut:
1. Stewardesses adalah kata terpanjang yang dapat diketik di keyboard hanya dengan menggunakan tangan kiri Anda. Sedangkan untuk tangan kanan, lollipop adalah yang terpanjang.

2. Tidak ada kata dalam bahasa Inggris yang bersajak/berima dengan month, orange, silver, purple, angst dan scalp.

3. Dreamt adalah satu-satunya kata bahasa Inggris yang berakhir dengan huruf ‘mt’.

4. Kalimat The quick brown fox jumps over the lazy dog menggunakan setiap huruf yang ada dalam abjad.

5. Kata racecar, kayak dan level dapat dibaca bolak-balik dari kiri ke kanan ataupun dari kanan ke kiri.

6. Hanya ada empat kata dalam bahasa Inggris yang berakhir dengan suku kata ‘dous’, yaitu: tremendous, horrendous, stupendous dan hazardous.

7. Ada dua kata dalam bahasa Inggris yang menggunakan kelima huruf hidup secara berurutan (a, e, i, o, u), yaitu: abstemious dan facetious.

8. Typewriter adalah kata terpanjang yang dapat diketik menggunakan huruf-huruf yang terdapat pada satu baris tombol keyboard (baris QWERTY).

9. Huruf yang paling sering dipakai dalam bahasa Inggris adalah huruf ‘e’. Ini merupakan fakta baik dalam penggunaan bahasa Inggris secara umum, dalam karya fiksi dan non-fiksi, jurnalisme, kitab suci dan bahkan kode Morse!

10. Untuk huruf konsonan, huruf yang paling sering dipakai adalah huruf ‘t’.

11. Huruf yang paling sedikit digunakan dalam bahasa Inggris adalah ‘q’ – bukan ‘z’.

12. Lima huruf yang paling sering muncul sebagai huruf pertama dalam kata bahasa Inggris – secara berurutan – adalah ‘t’, ‘o’, ‘a’, ‘w’ dan ‘b’.

13. Hampir setengah dari seluruh kata bahasa Inggris diakhiri oleh huruf ‘e’, ‘t’, ‘d’ dan ‘s’.

14. The adalah kata yang paling sering digunakan dalam bahasa Inggris. Bila Anda tidak percaya, cobalah berbicara dalam bahasa Inggris standar yang benar selama 5 menit tanpa menggunakan kata ‘the’.

 

Read More

Bahasa Indonesia Lebih Sulit Dari Bahasa Inggris


Bagi orang Australia, bahasa Indonesia itu super sulit. Meski seorang dosen bergelar professor yang mengajar bahasa Indonesia di sebuah universitas ternama di Sydney pun mengakui itu.  Ia kurang percaya diri kalau koresponden diminta memakai bahasa Indonesia. Ini pengalaman nyata penulis saat berkoresponden dengannya.  Tentu saja hal itu ditulisnya dalam nada guyon. Barangkali saja akan lain jika tulisan bahasa Indonesia itu dalam bentuk formal. Dalam menulis artikel ilmiah atau buku, misalnya akan relatif mudah mengikuti aturan gramatikalnya.

Beda dengan tulisan informal dan harus dilakukan secara spontan. Sebuah pekerjaan yang tidak gampang. Pernah penulis diminta membantu seorang mahasiswa Australia yang belajar bahasa Indonesia.  Waktu itu dimintai tolong untuk mengoreksi terjemahan bahasa Indonesianya. Saya mendapati bahasa Indonesia terjemahannya amat menggelikan.  Kadang susah diterima maksudnya.

Ia terjemah bahasa inggris indonesia secara harafiah, semacam hasil terjemahan dari mesin penterjemah Google. Apa yang paling membingungkan mereka adalah penggunaan kata awalan dan akhiran. Bagi orang Indonesia penggunaan kata awalan dan akhiran seperti berjalan secara otomatis tanpa mikir lagi.

Kita tidak menyadari bahwa hal itu merupakan kesulitan terbesar bagi masyarakat asing dalam mempelajari bahasa Indonesia. Penggunaan yang kurang pas kata awalan dan akhiran akan membuat kalimat benar-benar beda arti dan pengertiannya. Misalnya dari kata dasar “ikut”, jika diberi awalan dan akhiran bisa menjadi “diikutkan”, “diikuti”, “ikuti”, “mengikut”, “mengikuti”, “mengikutkan”, “ikutan” dan lain-lain kata yang bisa dibentuk dari kata dasar “ikut”. Belum lagi jika dijadikan kata benda menjadi “pengikut”.

Contoh kalimat: “Ia diikuti oleh pengikut yang mengikuti dirinya bersama pengikut yang mengikutkan para pengikut lainnya dan membuat orang lain untuk turut ikutan pula.” Wah, bisa bikin puyeng otak mereka dalam memahami apalagi menuliskannya.

Menuliskan bahasa Indonesia harus ada imajinasi tentang sebuah tindakan. Bahkan dalam hal tertentu harus tahu budaya Indonesia. “Dia ikut neneknya”, bukan berarti ia berjalan di belakang atau disamping neneknya tapi ia bertempat tinggal, hidup bersama, dititipkan atau numpang di rumah neneknya. Menjelaskan antara kata “ikut” dan “diikuti” pada mahasiswa Australia yang lagi belajar bahasa Indonesia tidaklah gampang.  Perlu peragaan dengan menggunakan contoh sehari-hari. Dan kadang harus ditambahi contoh kata-kata lain yang akrab dengan dunia keseharian mereka. Dan kalau perlu diberi contoh padanan dalam bahasa Inggris.

Kata “ikut” bisa menjadi “follow”, “been followed”, “is following” dan seterusnya. Dalam kata “Dia ikut neneknya” menjadi “He stays with his grandmother”. Jadi artinya sudah lain lagi. Terjemahan kata “ikut” menjadi sesuatu yang beda sama sekali yakni “stay” atau “live”. Tidak sedikit orang Australia yang bisa berbahasa Indonesia terutama orang-orang yang pernah tinggal di Indonesia untuk waktu yang lama.

Mereka lancar dalam menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari. Menurut mereka belajar bahasa Indonesia itu mudah. Tapi lain lagi jika apakah belajar bahasa Indonesia itu mudah ditanyakan pada orang-orang yang benar-benar mempelajari bahasa Indonesia, sebagaimana seorang professor dalam contoh di atas. Untuk menguasai dengan baik kata awalan dan akhiran perlu waktu lama. Sebagaimana masyarakat Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia dalam keseharian mungkin tanpa halangan, tapi akan lain jika diharuskan menuliskannya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat asing yang belajar bahasa Indonesia.

Mereka akan jauh kesulitan kalau disuruh menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. (lihat diskusi di sini yang disampaikan oleh KC seorang accredited translator/interpreter dari bahasa Indonesia ke Inggris). Baca juga pengakuan seorang blogger tentang sulitnya mempelajari bahasa Indonesia di sini.

Apakah karena sulitnya dalam mempelajari bahasa Indonesia ini maka pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dan universitas di Australia mulai kehilangan peminatnya? Dibanding pada tahun 1970 hingga 1980 bahasa Indonesia pernah diajarkan ke seluruh sekolah di negara bagian dan di 20 universitas.  Kini peminat bahasa Indonesia turun drastis mencapai 37% pada akhir dekade ini. Menurut Professor David Hill dalam siaran radio Australia, turunnya minat masyarakat Australia untuk belajar bahasa Indonesia disebabkan oleh berbagai hal.

Salah satunya adalah kurang populer negara Indonesia. Indonesia kurang melakukan promosi negaranya dibanding negara lain. Dan juga larangan turisme oleh Department of Foreign Affairs untuk bepergian ke Indonesia menyebabkan lesunya minat untuk belajar bahasa Indonesia (baca di sini).  Program dari PM Kevin RUdd “National Asian Languages and Studies in Schools” yang merupakan daya dorong untuk mempelajari bahasa Indonesia di sekolah dan universitas di Australia juga telah ditinggalkan.

Kesalahan persepsi tentang Indonesia memang diakui oleh banyak orang, demikian kira-kira menurut survey yang dilakukan pada tahun 2011 oleh Lowy Institute.  Dalam survey tersebut sebanyak 77% respondent menyatakan pentingnya untuk punya hubungan dekat antara Australia dan Indonesia di masa depan. Tapi di lain pihak respondent sebanyak 69% menganggap bahwa Indonesia adalah negara diktator dan dibawah kontrol militer. Dan 52% melihat Indonesia sebagai negara yang telah menjalankan demokrasi. Jika persepsi tentang Indonesia ini tidak segera dirubah, maka diperkirakan sepuluh tahun lagi bahasa Indonesia benar-benar akan menghilang dari bahan pengajaran di sekolah dan universitas di Australia selain di negara bagian Victoria dan Northern Territory. (Informasi lebih lengkap bisa download tulisan Professor David Hill di sini) atau juga kunjungi situs ini. Mempelajari bahasa asing memang selamanya tidak mudah.  Namun bukan berarti tidak bisa dan tidak perlu. Bahkan menjadi antipati.

Jika orang Australia merasa enggan untuk belajar bahasa Indonesia karena image negara Indonesia yang negatif di mata mereka, maka hal sama juga berlaku bagi bangsa kita.  Enggan belajar bahasa Inggris karena image negara sumber bahasa Inggris itu. Belum lagi jika penguasaan bahasa Inggris memicu kecemburuan sosial atau sok dianggap jaga image oleh sebagian kalangan.  Padahal bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang memudahkan kita untuk transfer ilmu dan teknologi.

Banyak kalangan masyarakat Australia yang belum mengerti faktor pentingnya peranan dan keberadaan Indonesia di masa depan buat Australia. Dengan penduduk yang kini mencapai 245 juta jiwa, potensi pasar ekonomi Indonesia buat Australia tidak bisa diremehkan begitu saja. Pada tahun 2012 kemarin, diperkirakan jumlah perusahaan Australia di Indonesia sudah mencapai sekitar 400 perusahaan. Dan ini akan bertambah di masa-masa dekade mendatang. Kita sebagai orang Indonesia juga tidak kalah pentingnya untuk belajar bahasa Inggris untuk menghadapi persaingan tenaga kerja di masa depan.*** (HBS)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hsancoko/bahasa-indonesia-lebih-sulit-daripada-bahasa-inggris_552ac069f17e61703ad623a6

Incoming search terms:

  • transelit bahasa Indonesia ke bhsa inggris
  • transelit google bahasa jawa
Read More

11 Istilah Bahasa Indonesia Yang Sulit Diterjemahkan Ke Dalam Bahasa Inggris


Ada yang bilang bahwa lebih dari 90% istilah di dalam bahasa Indonesia merupakan bahasa serapan dari istilah asing. Itu mengapa ketika kita melakukan terjemah bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, kita akan mudah menemukan padanan kata yang sesuai.

Namun tahu kah kamu di antara banyaknya istilah bahasa Indonesia, terdapat kata-kata atau istilah yang sulit sekali dicari padanan kata bahasa Inggrisnya. Jika pun ada padanan katanya, maknanya kurang sesuai dengan istilah aslinya. Berikut ahloo kasih tahu 11 kata atau istilah Indonesia yang sulit dicari padanan kata bahasa Inggrisnya.

1. Kebelet

Frasa bahasa inggris yang paling dekat mungkin seperti: have the need, have an urgent to do something, craving for, atau dying for. Tapi tidak juga sepenuhnya bisa dipakai. Misalnya, kita bisa menulis craving for chocolate atau dying for drugs tapi tidak bisa diganti dengan kebelet cokelat atay kebelet narkoba. Dalam KBBI, kabete sendiri diartikan sebagai ingin sekali, atau tidak tertahankan untuk melaksanakan kegiatan.

2. Gemas

Gemas dalam KBBI diartikan sebagai sangat jengkel (marah) di hati atau sangat suka (cinta) bercampur jengkel. Kalau diterjemahkan dalam bahasa inggris yang paling mendekati mungkin be moved emotionally to do something physical from anger

3. Lahar

Banyak yang bilang kata ini berasal dari bahasa Jawa lalu diserap menjadi bahasa Indonesia. Banyak yang mengira bahwa lahar sama dengan lava padahal beda. Lahar itu lumpur volkanik yang unsur lavanya sudah tercampur air dan tanah. Sementara lava adalah magma yang keluar ke permukaan dari perut bumi. Lahar saat ini dijadikan istilah internasional untuk menjelaskan keadaan ini.

4. Latah

Nah, istilah yang satu ini sama sekali tidak ada dalam bahasa inggris. Jangankan kosa katanya, fenomenanya saja tidak ada. Latah sepertinya hanya dikenal di Indonesia.

5. Agar

Kata Agar yang dimaksud bukanlah kata yang berarti supaya tetapi agar-agar atau jenis bahan pangan yang terbuat dari ganggang laut. Agar tidak bisa diterjemahkan karena secara teknis pun berbeda dengan saudaranya, gelatin atau jelly yang dalam istilah inggrisnya disebut fruit preserve.

6. Galau

Istilah ini jadi kata yang paling ngetren khususnya di kalangan anak muda. Dalam KBBI galau diartikan sebagai keadaan sibuk beramai-ramai, ramai sekali: kacau tidak keruan (pikiran). Jika diartikan dalam bahasa inggris istilah yang paling mendekati adalah worried, confused,atau unsettled. Tapi sebenarnya kurang tepat juga. Khawatir belum tentu galau. Bingung juga tidak mesti galau.

7. Haru

Dalam KBBI kata ini diartikan sebagai rawan hati (kasihan, iba) namun jika diartikan dalam bahasa inggris banyak yang menyamakannya dengan emotion. Namun padanan ini juga tidak benar-benar sesuai dengan arti sebenarnya.

8. Gaul

Banyak yang mengusulkan istilah inggris yang sepadan dengan kata gaul adalah socialize, slang, atau mingle. Tapi rada aneh ya jika mengartikan “anak gaul” menjadi socialized child?

9. Ramai

Sekilas kata ramai mungkin akan kita padankan dengan crowded atau bustling. Tapi coba kalau kamu gunakan kalimat ini, “Gimana kemaren party-nya, ramai nggak?” Kalimat itu bukan menanyakan sesak ata tidaknya pesta tapi lebih pada ungkapan apakah pesta itu menyenangkan atau tidak. Dalam kalimat itu mungkin istilah inggris yang pas adalah fun. Tapi fun tidak selalu banyak  orang atau meriahnya acara.

10. Mabuk

Mabuk dalam bahasa indonesia bukan berarti drunk tapi pada makna yang lebih luas lagi. Misalnya, keadaan kepala pusing atau hilang kesadaran. Contoh; pusing naik mobil sering diistilahkan dengan kata mabuk. Teler makan duren juga diistilahkan dengan mabuk. Gila karena cinta juga diistilahkan dengan mabuk. Sekarang coba kita ganti ke dalam bahasa inggris hasilnya akan beda-beda: motion sickness, rising body temperature, drunk, lovesick, atau obsession.

11. Lurah

Istilah pemerintahan ini tidak dikenal dalam bahasa inggris. Jika pun ada yang paling mendekati adalah kepala desa yang memimpin sebuah desa (village). Tapi kelurahan dan pedesaan jelas istilah yang berbeda makna.

Incoming search terms:

  • bahasa inggris jangankan
  • latah bahasa inggris
  • istilah latah
  • contoh kalimat bahasa indonesia yang sulut di translate kedalam inggris
  • cara translate bahasa inggris yang sulit
  • bahasa inggrisnya latah
  • bahasa inggris tidak tau diterjemah bhs ind
  • bahasa indonesia yang susah di translate ke bahasa inggris
  • Bahasa Indonesia yang paling sulit diartikan
  • penerjemah kata sulit dalam bahasa jawa
Read More