Acuan Tarif Penerjemahan

 

Kami bersyukur bahwa pemerintah Indonesia telah mengakui penerjemah sebagai jabatan fungsional dan selain itu juga menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan PMK No. 65/PMK.02 Tahun 2015 Tentang Perubahan Standar Biaya Masukan Tahun Anggaran 2016 yang mengatur Satuan Biaya Penerjemahan dan Pengetikan (halaman 61 butir 5).

 

Perincian biaya tersebut adalah sebagai berikut: (Cuplikan)

 

No.         URAIAN               SATUAN               BIAYA TA 2015

(Rp)

5              SATUAN BIAYA JASA TRANSLATE

5.1          Dari Bahasa Asing ke Bahasa Indonesia

  1. Dari Bahasa Inggris Halaman jadi      152.000
  2. Dari Bahasa Jepang Halaman jadi      238.000
  3. Dari Bahasa Mandarin Halaman jadi      238.000
  4. Dari Bahasa Belanda Halaman jadi      238.000
  5. Dari Bahasa Prancis Halaman jadi      173.000
  6. Dari Bahasa Jerman Halaman jadi      173.000
  7. Dari Bahasa Asing Lainnya Halaman jadi      238.000

5.2          Dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Daerah/Bahasa Lokal atau sebaliknya   Halaman jadi      120.000

Pada prinsipnya HPI mendukung tarif yang ditetapkan dalam PMK (Peraturan Menteri Keuangan), namun tidak melarang penerjemah untuk memberlakukan tarif yang berbeda karena pada akhirnya tarif yang diberlakukan adalah yang disepakati antara penerjemah dan pengguna jasa.

 

Sebagaimana dapat dilihat di atas, PMK tersebut tidak membedakan antara tarif penerjemahan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia dan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing, meskipun kita tahu ada perbedaan dalam tingkat kesulitan. Selain itu, tarif PMK juga tidak memperhitungkan perbedaan tingkat kesulitan yang terkait dengan jenis naskah yang diterjemahkan.

 

Dengan memperhatikan hal ini, penerjemah dapat mengenakan biaya tambahan, baik tambahan yang dimasukkan ke dalam tarif yang ditawarkan maupun sebagai biaya tambahan terpisah (surcharge).

 

Contoh ‘biaya tambahan’ adalah biaya:

 

penerjemahan dari bahasa ibu ke bahasa asing

penerjemahan naskah teknik

penerjemahan naskah kedokteran

penerjemahan naskah hukum

penerjemahan naskah bidang minyak dan gas

penerjemahan oleh penerjemah bersumpah

penerjemahan naskah berbentuk cetakan atau gambar (DTP Surcharge)

penerjemahan dengan tenggat waktu yang sangat pendek (rush order)

dan lain-lain.

Acuan Format Terjemahan Halaman Jadi

 

Mengingat PMK tersebut tidak mencantumkan format ‘halaman jadi’, kami merasa perlu memberikan rekomendasi format sebagai berikut:

 

Ukuran kertas   :               A4 (21 x 29,7 cm)

Margin (atas, bawah, kiri, kanan)              :               2,5 cm

Huruf    :               Arial

Ukuran huruf     :               12 points

Jarak antarbaris :               Dobel

Format di atas menghasilkan rata-rata 250 kata bahasa Indonesia per halaman.

 

Acuan Tarif Per Kata

 

Sebagaimana sangat lazim digunakan di dunia terjemahan internasional, meskipun ada pengecualian, tarif penerjemahan pada umumnya menggunakan tarif per kata bahasa sumber. Penggunaan cara perhitungan berdasarkan naskah bahasa sumber ini terutama memberikan  dua manfaat penting jika dibandingkan dengan tarif per halaman, yakni:

 

Sebelum pekerjaan dimulai, penerjemah dan pengguna jasa sudah mengetahui seluruh nilai pekerjaan; dalam hal tarif per halaman jadi, seluruh biaya baru dapat diketahui setelah pekerjaan selesai;

Penerjemah tidak dapat dituduh menggunakan kata-kata yang tidak perlu dengan tujuan memperbanyak jumlah kata.

Acuan Tarif Penyuntingan

 

Penerjemah juga sering diminta untuk melakukan pekerjaan penyuntingan. Tarif yang lazim untuk jenis pekerjaan ini adalah sekitar 50% dari tarif penerjemahan dan dihitung berdasarkan naskah terjemahan.

 

Acuan Tarif Penerjemahan Buku

 

Perlu diingat bahwa tarif PMK di atas berlaku untuk penerjemahan nonbuku. Tarif yang berlaku dalam industri penerbitan menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan tarif penerjemahan nonbuku. Tarif penerjemahan buku berkisar antara Rp8,5 dan Rp20per karakter atau bermula dari Rp10.000 per halaman jadi (untuk pasangan bahasa Inggris-Indonesia). Namun, sebagaimana telah disebutkan di atas, harga akhir ditentukan berdasarkan kesepakatan antara penerjemah dan pengguna jasa.

 

Adapun untuk penerjemahan buku atau bagian dari buku untuk pihak selain penerbit buku berlaku acuan tarif penerjemahan umum/nonbuku seperti disebutkan di atas.

 

Demikian acuan tarif ini kami sampaikan agar dapat menjadi pedoman bagi para penerjemah dalam menentukan harga.

 

 

 

Jakarta, 18 Februari 2014

Diperbarui tanggal 15 April 2015

 

Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI)

Read More


Artikel Ini Telah Terbit di Buku Bahasa dan Sastra Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif , ISBN No. 978-979-1262-25-5. Diterbitkan atas kerjasama the Faculty of Language  and Art, Yogyakarta State University dan Tiara Wacana publisher. 2008

Abstact: Madurese language, one of the Indonesian ethnic languages, is functioned well by its users. This language is used by Madurese people as their means of communication in all aspects of life. However, there is an interesting phenomenon in Madurese people’s interactions related to their language-written-form choice that needs to be studied. This is true that as they interact with their Madurese friends they use Madurese language, yet when this interaction shifted to the written one, the usage of Madurese language does not arise anymore. This is an interesting sign that there is somewhat different language use between spoken and written form and likely this phenomenon will become a threat to the existence of Madure language in the future.

Key words: Madurese Language, Code Shifting

1. PENDAHULUAN
Pada judul artikel ini, kertas dan tinta yang dimaksud adalah alat yang digunakan untuk menulis. Bersahabat di sini didefinisikan sebagai frekuensi penggunaan Bahasa Madura. Dikatakan bersahabat apabila frekuensi penggunaan bahasa Madura dalam tulisan adalah sering. Dan dikatakan tidak bersahabat apabila frekuensi penggunaan bahasa Madura jarang atau bahkan mungkin tidak pernah. Tulisan ini mencoba mengupas sebuah terminologi yang biasa muncul dalam sosiolingistik yaitu “code shifting” atau “alih bahasa” dan menghubungkanya dengan realita yang berhubungan dengan pengunaan bahasa daerah di Madura,  daerah yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa komunikasi sehari-hari .

Madura dengan empat kabupatennya yaitu Bangkalan, Sampang Pamekasan dan Sumenep  tidak hanya didiami orang Madura saja,  tapi daerah ini didiami juga oleh orang Jawa, Sunda, Sumatera, Cina, dan Arab. Namun, meskipun struktur masyarakatnya terdiri dari berbagai etnis, mayoritas dari populasi pulau ini adalah penutur asli bahasa Madura yaitu orang Madura dan bahasa komunikasi merekapun bahasa Madura.

Pemerintah menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional yang wajib digunakan oleh segenap suku bangsa di Indonesia, sehingga Madura sebagai bagian dari suku bangsa di Indonesia juga menggunakan bahasa tersebut. Akibatnya orang Madura menjadi bilingual, yaitu mereka mampu menguasai dua bahasa dengan baik. Bahkan ada sebagian daerah yang penduduknya multilingual karena mereka tidak hanya mahir bahasa Madura dan bahasa Indonesia, mereka juga mahir bahasa Jawa atau bahkan bahasa Kalimantan.

Berdasarkan kemampuan mereka yang bilingual atau multilingual ini, kita mungkin dapat bertanya, kira-kira apa yang terjadi andaikata masyarakat ini kemudian berada dalam sebuah situasi bilingual atau multilingual, sebuah situasi yang memberikan mereka kebebasan untuk memilih bahasa apa yang mereka gunakan? Bahasa apakah yang akan mereka pakai dalam konteks ini? Dan apabila pertanyaan ini kemudian dihubungkan dengan konteks komunikasi modern, yaitu sebuah konteks dimana komunikasi antar orang Madura dengan munggunakan piranti elektronika seperti handphone telah menjadi trend, fenomea linguistik apakah yang mungkin muncul dalam konteks tersebut? Bahasa apakah yang mereka pakai dalam komunikasi via handphone? Bahasa manakah yang mereka pilih dalam menulis pesan SMS? Ini beberapa pertanyaan yang sangat menarik untuk dikaji.

Penulis memiliki banyak teman yang berasal dari suku yang sama dan telah bergaul dengan mereka selama bertahun lamanya. Setelah sekian lama bergaul dengan mereka, penulis menjumpai sebuah fenomena menarik dalam interaksi kami yang berhubungan dengan pemilihan bahasa yang akan dipakai dalam tulisan. Dalam komunikasi sehari-hari, kami memang menggunakan bahasa Madura, namun ketika komunikasi ini beranjak menuju komunikasi tulis, katakanlah komunikasi dalam bentuk surat atau SMS, maka bahasa Madura tidak di pakai lagi. Ini menjadi sebuah tanda tanya besar dalam benak penulis. Dan pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apakah absennya bahasa Madura dalam tulisan ini hanya terjadi pada interaksi kami saja, ataukah fenomena ini telah menjadi sebuah budaya dan dilakukan oleh hampir oleh seluruh orang Madura? Jika memang benar fenomena ini adalah budaya, maka kekhawatiran para tokoh Madura bahwa suatu saat bahasa Madura akan punah telah mulai terbukti adanya. Bahasa Madura telah mulai punah dalam tataran komunikasi tulisan.

Untuk menjawab pertanyaan inilah artikel ini ditulis. Artikel ini pada intinya berusaha menjawab tiga pertanyaan mendasar yang berhubungan dengan absennya bahasa Madura dalam tulisan, yaitu: a. Faktor-faktor yang melatar belakangi alih bahasa orang Madura dalam komunikasi via tulisan, b. Dampak alih bahasa terhadap bahasa Madura, dan c. Peranan bahasa Madura terhadap perkembangan bahasa Indonesia.

2. PEMBAHASAN
A. Faktor-faktor yang melatar belakangi alih bahasa dalam bahasa tulis orang  Madura
Beberapa penelitian dalam bidang sosiolinguistik mengusulkan setidak-tidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi kelahiran alih bahasa. Gil menyebutnya sebagai tiga faktor dominan. Ketiga faktor tersebut antara lain, status bahasa, demografi and institusi. (Gil dalam Setiawan 2001:175). Sedang dalam konteks bahasa Madura, penulis mengajukan setidak-tidaknya ada lima faktor yang mungkin mempengaruhi kemunculan alih bahasa dalam tulisan. Faktor tersebut antara lain, demography, status bahasa, karakteristik bahasa madura, diglossia  dan yang terakhir trend.

A.1  Demografi
Faktor demografi menjadi faktor pertama yang dibahas dalam artikel ini. Pada bagian pendahuluan, penulis menyebutkan bahwa pulau Madura tidak hanya dihuni oleh etnis Madura saja, namun juga oleh etnis-etnis yang lain seperti Jawa, Sunda, Arab, Cina, dan Sumatera. Keberagaman etnis inilah yang kemudian membentuk demografi Madura seperti yang kita lihat dewasa ini. Etnis-etnis tersebut saling berbagi peran dan bersatu membentuk masyarakat yang harmonis.

Meskipun etnis di luar etnis Madura, katakanlah etnis Jawa, hanyalah etnis minoritas, dan komunitas merekapun tidak terlalu luas, namun etnis ini berperan penting dalam aktivitas keseharian masyarakat Madura. Banyak diantara orang Jawa memiliki peranan sosial cukup penting. Mereka ada yang menjadi pegawai PEMDA, guru, dosen, dokter, kuli bangunan, bahkan pedagang kaki lima. Mereka harus dapat bertahan hidup di tempat yang baru tersebut, dan mereka mulai melakukan pertahanan hidup ini dalam bentuk melakukan interaksi dengan penduduk lokal. Pendatang ini memiliki kekurangan, dan kekurangan ini adalah mereka tidak mengerti bahasa Madura. Untungnya mereka menguasai bahasa lain yang mampu menutupi kekurangan mereka yaitu bahasa Indonesia. Bahasa inilah yang menjembatani komunikasi penduduk pendatang dengan penduduk lokal. Orang Madura sangat menghargai warga pendatang ini dan merekapun menggunakan bahasa Indonesia untuk berinteraksi. Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana komunikasi yang dimengerti oleh dua etnis yang berbeda ini. Demikian juga dalam bahasa tulis. Kedua belah bihak tanpa ada kata sepakat lebih memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam tulis. Menggunakan bahasa Madura untuk menulis surat atau mengirimkan SMS pada orang yang berasal dari etnis Jawa, boleh dikatakan hampir mustahil dilakukan oleh orang Madura, demikian juga sebaliknya.

A.2 Status Bahasa
Faktor ke dua yaitu status, mengacu pada definisi Appel dan Muysken yang menyatakan bahwa alih bahasa terjadi karena status bahasa itu sendiri. Status ini mereka namakan sebagai  ”minority language”  atau bahasa minoritas (Gil dalam Setiawan 2001:175). Trudgill di lain pihak meyakini bahwa bahasa minoritas yang kekuatannya kecil dan peranannya tidaklah terlalu vital dalam mendukung pelaksanaan tata masyarakat sebuah negara tidak akan pernah menjadi bahasa resmi. (Trudgill dalam Setiawan 2001:175). Dan ketika bahasa ini tidak menjadi bahasa resmi, maka keberlangsungan hidup termasuk di dalamnya keberlangsungan pemakaiannya sangat sukar untuk dipertahankan. Dengan kata lain, pemakaian bahasa  ini akan semakin menyempit dan alih bahasapun tidak akan mungkin dapat dihindarkan. (Setiawan 2001:176). Hal ini sejalan dengan apa yang sedang terjadi pada bahasa Madura yang pemakaiannya mulai menyempit, dan mencakup hanya pemakaian lisan saja. Meskipun bahasa Madura digunakan secara luas oleh masyarakat Madura, namun karena bahasa ini bukanlah bahasa resmi, maka bahasa ini akan tetap menjadi bahasa minoritas. Sebagai bahasa yang tidak resmi, pemakaian bahasa Madura selalu menjadi pilihan kedua dalam berbagai kegiatan formal. Termasuk di dalamnya dalam  penyelenggaraan kegiatan pendidikan di sekolah.

Tidak digunakannya bahasa Madura di sekolah menjadi inti dari permasalahan absennya bahasa Madura dalam tulisan. Kemampuan menulis adalah produk dunia pendidikan. Kemampuan ini didapatkan dari serangkaian proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas. Berhubung proses pembelajaran ini resmi, maka bahasa pengantarnyapun adalah bahasa resmi yaitu Bahasa Indonesia. Karena bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia, maka materi yang siswa baca dan siswa tulis adalah materi yang disampaikan dalam bahasa Indonesia. Kegiatan mendengar, berbicara, membaca dan menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia ini dilakukan selama bertahun lamanya sehingga akhirnya proses panjang ini menjadi sebuah kebiasaan. Ketika mereka diminta berbicara, maka mereka akan berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia. Ketika mereka diminta untuk memilih bacaan, mereka akan memilih bacaan yang berbahasa Indonesia. Dan ketika mereka diminta menulispun, mereka akan menuliskan kalimat berbahasa Indonesia dengan menggunakan huruf alfabet dan tidak menggunakan sistem ha na ca ra ka, sebuah sistem tulisan yang dipakai orang Madura kuno. Kebiasaan ini membentuk pola tersendiri dalam masyarakat, dan sepertinya sangat jarang dijumpai ada orang yang lebih memilih menulis sesuatu dengan menggunakan bahasa Madura daripada bahasa Indonesia. Andaikata ada orang seperti ini, yaitu menulis dengan menggunakan bahasa Madura, maka dapat dipastikan bahwa kegiatan ini dilatar belakangi oleh tujuan tertentu, semisal mengerjakan tugas muatan lokal bahasa daerah yang didapat dari sekolah, menuliskan kata sambutan dalam acara budaya Madura, membuat spanduk yang intinya menarik masyarakat Madura melakukan sesuatu, dan sekedar promosi produk barang.

Keengganan masyarakat Madura untuk menulis sesuatu dengan menggunakan bahasa Madura, dan minimnya tulisan-tulisan berbahasa Bahasa Madura yang beredar di masyarakat ternyata menimbulkan masalah baru. Masalah ini berhubungan dengan kemampuan mereka untuk memahami teks yang ditulis dengan menggunakan bahasa Madura. Mereka  lama tidak bersinggungan dengan tulisan berbahasa Madura dan apabila suatu ketika mereka berhadapan dengan teks seperti itu, mereka akan butuh waktu untuk memahami sebuah teks tersebut. Sebuah kalimat na’ kana’ rowa raja akan sulit dipahami maknanya oleh masyarakat Madura karena mereka tidak terbiasa membaca tulisan seperti ini. Selain itu, kata raja yang ada dalam teks ini juga bermakna ambigu karena merepresentasikan dua makna yang berbeda, tergantung cara pelafalan kata tersebut.  Raja dalam kalimat ini bisa dibaca  /r ? d j ? h/ yang artinya besar dan     /r ? d j ?/ yang artinya raja. Kesulitan ini diperparah dengan adanya kekurangjelasan pola penulisan bahasa Madura. Pola yang dimaksud disini adalah tata cara penulisan kata dalam bahasa Madura yang disepakati dan dikenal luas oleh seluruh Masyarakat Madura. Permasalahan inilah yang kemudian membuat masyarakat Madura enggan menulis sesuatu dengan menggunakan bahasa Madura, dan sebagai konsekuensinya, bahasa Madura secara lambat laun absen dalam tulisan. Permasalahan ini bisa diibaratkan sebagai lingkaran setan yang tidak berujung dan tidak berpangkal.

A.3  Karakter Bahasa Madura
Faktor ketiga berhubungan dengan karakter bahasa Madura itu sendiri. Kata-kata dalam Bahasa Madura memiliki karakter khusus yang berbeda dibandingkan bahasa lain. Karakter ini terletak pada banyaknya konsonan dan suara letup pada tiap katanya. Kata Beddha’ (bedak), adalah contoh nyata karakter khusus ini. Selain itu, banyaknya kata yang memiliki suku kata lebih dari dua menyebabkan masyarakat kadang menjadi bingung untuk menuliskannya. Kata  kamma’ah (mana) dalam kalimat  Dha’ kamma’ah? (Anda mau kemana) adalah contoh bahwa menuliskan kata dalam bahasa Madura tidaklah semudah menuliskan kata dalam bahasa Indonesia. Apabila penulisan kata ini dilakukan dalam bentuk SMS, dan format tulisannya mengikuti kebiasaan yaitu kalimat atau kata-kata dalam SMS dipotong jadi pendek, Tidak hanya si penerima yang jelas akan butuh waktu lama untuk memahami kalimat di SMS tersebut, sang pengirimpun pastinya akan berpikir keras untuk mengirimkan tulisan yang dapat dipahami dengan mudah oleh penerima. Sebuah kalimat Tng bdhn rassna sake’ yang mengikuti pola SMS yaitu dipotong menjadi pendek beberapa kata di dalamnya dan dikirimkan lewat SMS akan benar-benar membingungkan bagi pembacanya. Arti kalimat ini sebenarnya adalah ”badanku terasa sakit”, kata bdhn apabila dituliskan lengkap adalah badhan yang artinya badan. Namun, karena kurang terbiasanya orang Madura terhadap tulisan Madura, bisa jadi kata bdhn kemudian dibaca menjadi budhun yang artinya bisul. Untuk memecahkan kesulitan penulisan ini utamanya dalam SMS, maka orang Madura mengambil sebuah solusi yaitu dengan mengalihkan bahasanya tulisannya ke Bahasa Indonesia yang lebih mudah dipahami. Alih bahasapun terjadi.

A.4 Diglossia.
Digglosia, sebuah fenomena yang biasa muncul dalam kajian sosiolinguitik dapat dijumpai keberadaannya di Madura. Diglosia ini mengacu pada perbedaan penggunaan bahasa yang disuaikan dengan konteks waktu, tempat, dan lawan bicara. Bahasa Madura memiliki tiga tingkatan. Tingkat pertama disebut Enja’-Iya yaitu bahasa Madura kasar yang biasa dipakai ketika orang Madura berkomunikasi sehari-hari dengan lawan bicara yang seusia atau lebih muda. Enggi-Enten, sebagai bahasa Madura tingkat sedang dipakai ketika orang Madura berkomunikasi dengan orang yang lebih tua namun status sosialnya setara, dengan orang yang baru dikenal, atau kadang dengan teman yang tidak terlalu akrab.  Yang terakhir adalah Enggi-Bunten, bahasa Madura halus yang biasa digunakan kepada lawan bicara yang jauh lebih tua, atau kepada seseorang yang sangat dihormati. Orang Madura harus mematuhi aturan penggunaan bahasa ini jika tidak ingin dikatakan sebagai seseorang yang kurang berpendidikan, dan tidak tahu sopan santun

Sayangnya, pengetahuan orang Madura utamanya generasi muda yang biasa tinggal di pusat kota tentang penggunaan bahasa Enggi Bunten mulai berkurang. Yang lebih ironis lagi, ada banyak generasi muda Madura hanya paham bahasa kasar saja. Banyak hal sebenarnya dapat menjelaskan mengapa hal memprihatinkan ini terjadi, namun secara umum faktor dominan yang berperan dalam degradasi pengetahuan bahasa halus ini adalah karena proses pengajaran bahasa Madura dalam keluarga dan di sekolah yang dijalankan dalam bentuk muatan lokal bahasa daerah dinilai kurang berhasil. Minimnya pengetahuan tentang bahasa halus ini menyebabkan banyak orang menjadi enggan untuk menggunakan bahasa Madura. Ketika seorang pemuda terpaksa harus berbicara dengan seseorang yang dihormati dalam masyarakat, dan pemuda ini menyadari bahwa bahasa yang harus ia pakai ketika berbicara dengan orang ini adalah bahasa halus, padahal ia tidak terlalu yakin dengan kemampuan bahasa halusnya, maka daripada dianggap tidak sopan dan kurang berpendidikan karena menggunakan bahasa Madura yang kurang baik, pemuda inipun memilih menggunakan bahasa Indonesia.

Hal yang sama terjadi juga dalam tulisan. Menulis memerlukan ketrampilan yang kompleks. Selain sang penulis harus pandai mencari ide tentang apa yang akan disampaikannya dalam tulisan tersebut, ia juga harus mampu mencari diksi yang tepat agar ide dan pikiran yang hendak disampaikan dapat ditangkap dengan mudah oleh pembacanya. Proses mencari ide dan mencari diksi yang pas ini bagi sebagian orang sudah sangat sulit dilakukan. Jika  proses ini kemudian harus ditambah dengan kegiatan menganalisa tulisan apakah benar atau tidak, atau ditambah dengan kegiatan harus mencari bahasa halus yang tepat dan sopan, pastilah akan sangat berat dan melelahkan. Ketika orang Madura menulis bahasa Madura dengan menggunakan bahasa halus, maka dia harus melalui proses melelahkan ini. Tidak banyak orang mau direpotkan dengan urusan yang panjang dan melelahkan ini, dan untuk lebih mudahnya akhirnya mereka kembali memakai cara lama yaitu mereka tuliskan ide mereka dalam bahasa Indonesia.

A.5 Trend
Yang dimaksud dengan trend disini adalah fenomena aktual yang ada dalam masyarakat. Ketika era komunikasi digital berkembang dengan pesat, tidak ada batasan jarak antara orang Madura dengan orang yang berada di daerah lain. Orang Madura dapat dengan mudahnya mengakses jutaan informasi hanya melalui tabung kecil yang disebut televisi, dan internet-komputer. Pusat tren bangsa Indonesia adalah Jakarta. Budaya masyarakat Jakarta inilah yang kemudian dijadikan patokan kebanyakan orang Madura dalam berbuat dan bersikap. Termasuk juga budaya berbicara dan menulis. Program-program yang ditampilkan di TV hamper seluruhnya berbahasa Indonesia. Bahasa yang ada di TV inilah yang dijadikan contoh oleh masyarakat Madura. Memang, tidak semua masyarakat Madura kemudian beralih menggunakan bahasa Indonesia, namun secara tidak langsung, program diTV tersebut telah memberikan gambaran bahwa bahasa Indonesia-betawi dan Inggrislah yang menjadi bahasa trend saat. Menggunakan bahasa selain itu dianggap sebagai kolot, tidak modern dan tidak trendy. Demikian juga dalam tulisan. Menggunakan bahasa Madura dalam tulisan kini dianggap sebagai perbuatan merepotkan, aneh, kurang modern, dan tidak berpendidikan. Faktor trend inilah yang membuat kebanyakan pemuda Madura mengikhlaskan bahasa Madura tulis untuk tidak dihidupkan dan kemudian dimusiumkan.

B. Dampak Alih Bahasa Madura Dalam Tulisan Terhadap Keberadaan Bahasa Madura Ke Depan
Alih bahasa yang terjadi dalam masyarakat Madura merupakan sebuah fenomena linguistik yang biasa terjadi. Di masyarakat manapun di seluruh dunia terutama masyarakat majemuk yang terbentuk dari  berbagai macam suku bangsa pasti akan mengalami fenomena ini. Alih bahasa ini muncul dan dilakukan oleh satu masyarakat karena adanya sebuah kebutuhan terhadap cara jitu untuk berkomunikasi dengan masyarakat yang lain yang berbahasa beda. Selama alih bahasa ini terjadi secara temporer dan tidak permanen, maka keberadaan bahasa domain (bahasa yang dialih bahasakan) akan tetap terjaga. Namun, andaikata alih bahasa ini dilakukan secara terus menerus atau bahkan permanen, ini akan dapat berimbas negatif dan mengancam bahasa domain. Ketika alih bahasa Madura ke bahasa Indonesia dilakukan secara terus menerus, kondisi ini jelas akan membawa dampak negatif pada bahasa Madura. Orang Madura yang terbiasa berbahasa Indonesia pastinya akan merasa tidak nyaman ketika dipaksa untuk kembali berbahasa Madura. Kebiasaan tidak menggunakan bahasa Madura ini apabila kemudian diwariskan pada anak cucu, akan menyebabkan anak cucu tersebut tidak memiliki kemampuan berbahasa Madura, padahal darah mereka adalah darah Madura. Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut, eksistensi bahasa Madura ke depannya akan terancam

Ancaman terhadap eksistensi bahasa Madura telah mulai terlihat dalam fenomena alih bahasa Madura tulis ke dalam bahasa Indonesia. Bahasa Madura telah mulai hilang dalam tulisan. Hal ini didukung oleh fakta-fakta menarik yang penulis temukan di lapangan. Fakta-fakta tersebut adalah:

  1. Dari hasil pengamatan penulis terhadap tulisan pada 65 spanduk yang bertebaran di Kabupaten Bangkalan, bisa dihitung dengan jari jumlah spanduk yang menggunakan bahasa Madura. Hanya 2 spanduk yang menggunakan bahasa tersebut. Sisanya, yaitu 63 buah, menggunakan bahasa Indonesia. Padahal spanduk-spanduk tersebut ditujukan untuk orang Madura.
  2. Diantara 50 siswa di sebuah sekolah di Kabupaten Bangkalan yang penulis wawancarai untuk memastikan apakah mereka menulis SMS dengan menggunakan bahasa Madura ataukah tidak, ternyata dijumpai tidak satupun diantara mereka yang memiliki komitmen untuk selalu menulis SMS dengan menggunakan bahasa Madura. Lebih dari separuh atau sekitar 43 orang menyatakan belum pernah SMS dengan menggunakan bahasa Madura. Sisanya mereka menyatakan pernah SMS dengan menggunakan bahasa Madura dan itupun hanya satu atau dua kali saja.
  3. Penulis juga menjumpai diantara tulisan yang terdapat di belakang 29 bak truk yang melewati jalan telang Bangkalan, hanya 2 buah truk yang bertuliskan bahasa Madura, itupun hanya sebuah frase bahasa Madura yaitu te ngate, (hati-hati), dan Ale’ sayang (adek sayang). Padahal plat nomor kendaraan tersebut M, plat nomor Madura.
  4. Diantara papan nama toko yang bertebaran di kecamatan Bangkalan, tidak ada satupun papan nama itu bertuliskan nama-nama dalam bahasa Madura.
  5. Diantara 250-an nama teman seangkatan penulis waktu SMA, hanya ada dua nama yang berbau bahasa Madura, yaitu Rimbi Ari Raja (Lahir di hari raya) dan Tera Athena (Terang hatinya). (Bandingkan dengan daerah Jawa, yang kebanyakan nama penduduknya diambil dari bahasa Jawa seperti Suryo, Putro, Noto, dan Eka)
  6. Diantara koran lokal (kebanyakan milik PEMDA) yang ada di Madura, tidak satupun yang menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa utama untuk menyampaikan informasi. Radar Madura, koran dengan oplah terbesar dan merupakan bagian dari koran lokalpun hanya mencantumkan peribahasa Madura saja untuk dikaji. Belum pernah dijumpai koran ini menuliskan beritanya dalam bahasa Madura.

Jika semua fakta ini hanya didiamkan saja, maka suatu saat Bahasa Madura akan benar-benar punah. Pertama memang tulisan Madura hilang dari masyarakat, suatu saat bahasa Madura lisanpun akan hilang.

Untuk mempertahankan bahasa Madura dari kepunahan, hanya ada satu cara yaitu berusaha menggalakkan kembali kegiatan menulis dengan menggunakan bahasa Madura. Apabila kegiatan ini dilaksanakan, hal ini akan memberikan efek domino positif terhadap perkembangan bahasa Madura. Memang pertamanya akan sangat sulit untuk membuat masyarakat Madura menulis sesuatu dengan bahasa Madura. Mereka akan sering buka kamus untuk memastikan apakah tulisan mereka benar ataukah tidak. Mereka juga akan sering banyak bertanya kepada para orang tua apakah bahasa tulisan mereka sudah cukup halus ataukah tidak. Tapi segi baiknya, dengan melaksanakan hal ini mereka akan kembali belajar. Mereka akan mencari buku-buku berbahasa Madura untuk mencari contoh tulisan yang bagus. Ketika mereka menemukannya, mereka akan mencontoh tulisan itu. Lama kemudian mereka akan memproduksi tulisan mereka sendiri. Ketika kegiatan tulis menulis berbahasa Madura menjadi budaya, akan banyak sekali dijumpai karangan-karangan dalam bahasa Madura. Ketika buku-buku dan tulisan berbahasa Madura banyak beredar dipasaran, maka akan selamatlah bahasa Madura dari kepunahan.

C. Peranan Bahasa  Madura Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia
Permasalahannya adalah bagaimana jika suatu ketika bahasa Madura yang selama ini digunakan luas oleh Masyarakat Madura punah? Adakah imbasnya kepunahan bahasa Madura ini terhadap bahasa Indonesia?

Berbicara tentang imbas kepunahan bahasa Madura terhadap bahasa Indonesia tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang peranan bahasa Madura  terhadap bahasa Indonesia. Ada dua peranan besar yang dimainkan bahasa Madura terhadap keberadaan bahasa Indonesia, dan apabila peranan ini hilang karena bahasa Madura punah, maka kerugian yang sangat besarlah yang menimpa bangsa dan bahasa Indonesia. Peranan tersebut adalah: 1. bahasa Madura merupakan komponen penyumbang kosakata terhadap bahasa Indonesia, 2. eksistensi bahasa Madura adalah pelindung bahasa Indonesia dari serangan bahasa asing

C1. Bahasa Madura Merupakan Komponen Penyumbang Kosakata Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia sendiri lahir pada zaman dimana bahasa ini dipergunakan sebagai bahasa perdagangan antar bangsa, atau yang biasa dikenal sebagai ”Lingua Franca”. Bahasa yang berinduk rumpun bahasa melayu yang berasal dari Tanah Riau ini, telah disahkan secara nasional oleh kita sebagai Bahasa Pemersatu dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Bahasa ini telah lama menjadi kebanggan bangsa kita.

Namun sayangnya bahasa Indonesia memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan yang paling utama terletak pada perbendaharaan katanya yang sedikit. Karena sedikitnya perbendaharaan kata inilah maka bahasa Indonesia meminjam banyak kata dari bahasa lain. Semakin lama pinjaman ini semakin banyak dan jumlahnya bahkan nyaris sama dengan jumlah kosakata asli bahasa Indonesia. Sejalan dengan waktu, akhirnya bahasa Indonesia “terjajah” oleh bahasa asing tersebut.

Tak bisa dipungkiri juga, seringnya kita mempergunakan bahasa asing malah menggeser nilai identitas keindonesiaan, dan bahkan nilai kesatuan kita. Padahal, nilai kesatuan ini sangat mahal harganya.     Salah satu jalan untuk mengembalikan Bahasa Indonesia menjadi Bahasa Persatuan adalah dengan cara memberi kesempatan kepada keragaman dan kekayaan bahasa daerah di tanah air untuk menambah perbendaharaan kata bahasa indonesia. Jika ada kata yang tidak dikenal atau tidak ada istilah bahasa Indonesianya, sudah selayaknyalah kita merujuk kepada perbendaharaan kata bahasa daerah, bukan kepada bahasa asing. Bahasa Madura yang kaya akan istilah lokal bisa diandalkan untuk urusan ini. Seperti contoh kata tandem yang berarti pasangan dalam bahasa Inggris, jika bangsa Indonesia kesulitan menemukan padanan katanya, maka bangsa Indonesia bisa mengambil kata kante’ dalam bahasa Madura. Demikian juga kata teenager atau youngster, yang artinya anak belasan tahun, bisa digantikan dengan kata dhat ngodadhan yang memiliki arti sama.

Dengan partisipasi dari bahasa Madura inilah justru akan timbul rasa turut ikut mendukung dan mewakili kekayaan dan ketinggian bahasa indonesia, serta terutama juga akan timbul rasa sama-sama memiliki bahasa indonesia sebagai bahasa nasional. Inilah yang bisa menjadi salah satu solusi mempersatu bangsa kita.

C.2 Keberadaan Bahasa Madura Adalah Pelindung Bahasa Indonesia Dari Serangan Bahasa Asing
Selain sebagai sumber kosakata bahasa Indonesia, bahasa Madura memiliki peranan lain yaitu sebagai baju pelindung bahasa Indonesia dari serangan bahasa asing. Baju pelindung dalam hal ini didefinisikan sebagai watak masyarakat Madura dalam menjaga dan melindungi apa-apa yang dimilikinya. Jika bahasa Madura mampu bertahan hidup, semata-mata itu karena watak peggunanya yang bertanggungjawab dan berkepribadian baik. Jika masyarakat Madura memiliki watak yang baik, maka mereka tidak akan pernah rela kehilangan bahasa yang telah mereka punyai dan mereka gunakan yaitu bahasa Madura.

Jika masyarakat Madura hanya berdiam diri saja dan tidak mau perduli terhadap keberlangsungan bahasa Ibu mereka, maka bahasa Madura akan berada diambang kemusnahan. Dan jika bahasa ini benar-benar punah, maka bangsa Indonesia dan juga bahasa Indonesia akan rugi besar. Logikanya, jika bahasa Madura punah maka ini jelas menunjukan betapa tidak bertanggungjawabnya masyarakat Madura terhadap budaya lokal dan lingkungan mereka sendiri. Kepribadian buruk ini apabila dipertahankan dan tidak diambil tindakan akan berimbas pada bahasa Indonesia. Memang, apabila bahasa Madura punah masih akan ada bahasa Indonesia yang akan menggantikan bahasa Madura tersebut. Namun apakah ada jaminan bahasa Indonesia inipun tidak akan punah, sedang kita semua paham bahwa orang Madura dikenal tidak mampu menjaga bahasanya dan membiarkan bahasa mereka sendiri punah? Apakah akan ada jaminan bahwa orang Madura akan tetap mempertahankan bahasa Indonesia dari serangan gencar bahasa internasional seperti bahasa Inggris dan China, sedangkan pengalaman telah menjelaskan bahwa masyarakat Madura tidak mengambil satu tindakanpun ketika bahasa mereka sedang diserang oleh bahasa Indonesia?

Mempertahankan keberlangsungan hidup bahasa Madura  secara tidak langsung telah mengajarkan kepada masyarakat Madura untuk bertanggungjawab terhadap kondisi sosial masyarakat mereka sendiri. Jika mereka mampu melakukan ini, maka mereka akan mampu pula mempertahankan bahasa Indonesia.

C. PENUTUP
Sebuah temuan mengejutkan yang didapat dari hasil penelitian para pakar bahasa dari sejumlah perguruan tinggi menjelaskan bahwa sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedang puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini juga terancam punah (www. tempointeractive.com). Pada tahun 2005, berdasarkan penelitian Pusat Bahasa Depdiknas RI, bahasa daerah di Indonesia berjumlah 731 bahasa. Pada 2007 tinggal 726 bahasa, karena 5 bahasa diantaranya mati (www.elbud.or.id.htm). Kematian bahasa ini disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah kurang bertanggungjawabnya pengguna bahasa tersebut untuk melestarikan dan mengembangkan bahasanya. Mencermati dan mengkaji fenomena perubahan bahasa daerah adalah salah satu cara untuk melestarikan danmengembangkan bahasa daerah. Dengan pengkajian ini, ancaman terhadap keberadaan bahasa tersebut akan dapat diketahui sedini mungkin sehingga dapat diambil langkah antisipatif sebelum ancaman tersebut menghancurkan bahasa tersebut. Tulisan ini telah memaparkan satu ancaman bagi bahasa Madura yang berhubungan absennya bahasa Madura dalam tulisan, yang kemudian ditambahkan dengan penyebab-penyebabnya mengapa bahasa ini absen dalam tulisan. Ancaman ini apabila tidak segera ditanggulangi akan berdampak buruk bagi bahasa Madura di masa yang akan datang. Rekomendasi yang ditawarkan tulisan ini cukup  sederhana. Mulailah membudayakan menulis dengan menggunakan bahasa Madura, jika tidak ingin bahasa Madura termasuk dalam salah satu bahasa yang telah punah tersebut.

REFERENCES

Setiawan, Slamet.  2001. First Language Maintenance: Evidence of Bahasa Indonesia in Auckland that is unlikely to succeed. Jurnal Bahasa Verba, Vol. 2  No. 37, 173-181
www. elbud.or.id.htm. Memperbicangkan Nasib Bahasa Madura. Diakses Kamis,  11 September 2008
www. tempointeractive.com. 10 Bahasa Daerah Punah, 700 Lainnya Terancam Diakses Jumat, 12 September 2008

sumber: https://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/artikel-bahasa/ketika-bahasa-madura-tidak-lagi-bersahabat-dengan-kertas-dan-tinta-sebuah-kajian-ethnolinguistics-ditinjau-dari-sudut-pandang-sosiolingistics-oleh/

Read More

Bahasa Indonesia Lebih Sulit Dari Bahasa Inggris


Bagi orang Australia, bahasa Indonesia itu super sulit. Meski seorang dosen bergelar professor yang mengajar bahasa Indonesia di sebuah universitas ternama di Sydney pun mengakui itu.  Ia kurang percaya diri kalau koresponden diminta memakai bahasa Indonesia. Ini pengalaman nyata penulis saat berkoresponden dengannya.  Tentu saja hal itu ditulisnya dalam nada guyon. Barangkali saja akan lain jika tulisan bahasa Indonesia itu dalam bentuk formal. Dalam menulis artikel ilmiah atau buku, misalnya akan relatif mudah mengikuti aturan gramatikalnya.

Beda dengan tulisan informal dan harus dilakukan secara spontan. Sebuah pekerjaan yang tidak gampang. Pernah penulis diminta membantu seorang mahasiswa Australia yang belajar bahasa Indonesia.  Waktu itu dimintai tolong untuk mengoreksi terjemahan bahasa Indonesianya. Saya mendapati bahasa Indonesia terjemahannya amat menggelikan.  Kadang susah diterima maksudnya.

Ia terjemah bahasa inggris indonesia secara harafiah, semacam hasil terjemahan dari mesin penterjemah Google. Apa yang paling membingungkan mereka adalah penggunaan kata awalan dan akhiran. Bagi orang Indonesia penggunaan kata awalan dan akhiran seperti berjalan secara otomatis tanpa mikir lagi.

Kita tidak menyadari bahwa hal itu merupakan kesulitan terbesar bagi masyarakat asing dalam mempelajari bahasa Indonesia. Penggunaan yang kurang pas kata awalan dan akhiran akan membuat kalimat benar-benar beda arti dan pengertiannya. Misalnya dari kata dasar “ikut”, jika diberi awalan dan akhiran bisa menjadi “diikutkan”, “diikuti”, “ikuti”, “mengikut”, “mengikuti”, “mengikutkan”, “ikutan” dan lain-lain kata yang bisa dibentuk dari kata dasar “ikut”. Belum lagi jika dijadikan kata benda menjadi “pengikut”.

Contoh kalimat: “Ia diikuti oleh pengikut yang mengikuti dirinya bersama pengikut yang mengikutkan para pengikut lainnya dan membuat orang lain untuk turut ikutan pula.” Wah, bisa bikin puyeng otak mereka dalam memahami apalagi menuliskannya.

Menuliskan bahasa Indonesia harus ada imajinasi tentang sebuah tindakan. Bahkan dalam hal tertentu harus tahu budaya Indonesia. “Dia ikut neneknya”, bukan berarti ia berjalan di belakang atau disamping neneknya tapi ia bertempat tinggal, hidup bersama, dititipkan atau numpang di rumah neneknya. Menjelaskan antara kata “ikut” dan “diikuti” pada mahasiswa Australia yang lagi belajar bahasa Indonesia tidaklah gampang.  Perlu peragaan dengan menggunakan contoh sehari-hari. Dan kadang harus ditambahi contoh kata-kata lain yang akrab dengan dunia keseharian mereka. Dan kalau perlu diberi contoh padanan dalam bahasa Inggris.

Kata “ikut” bisa menjadi “follow”, “been followed”, “is following” dan seterusnya. Dalam kata “Dia ikut neneknya” menjadi “He stays with his grandmother”. Jadi artinya sudah lain lagi. Terjemahan kata “ikut” menjadi sesuatu yang beda sama sekali yakni “stay” atau “live”. Tidak sedikit orang Australia yang bisa berbahasa Indonesia terutama orang-orang yang pernah tinggal di Indonesia untuk waktu yang lama.

Mereka lancar dalam menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari. Menurut mereka belajar bahasa Indonesia itu mudah. Tapi lain lagi jika apakah belajar bahasa Indonesia itu mudah ditanyakan pada orang-orang yang benar-benar mempelajari bahasa Indonesia, sebagaimana seorang professor dalam contoh di atas. Untuk menguasai dengan baik kata awalan dan akhiran perlu waktu lama. Sebagaimana masyarakat Indonesia, penggunaan bahasa Indonesia dalam keseharian mungkin tanpa halangan, tapi akan lain jika diharuskan menuliskannya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat asing yang belajar bahasa Indonesia.

Mereka akan jauh kesulitan kalau disuruh menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. (lihat diskusi di sini yang disampaikan oleh KC seorang accredited translator/interpreter dari bahasa Indonesia ke Inggris). Baca juga pengakuan seorang blogger tentang sulitnya mempelajari bahasa Indonesia di sini.

Apakah karena sulitnya dalam mempelajari bahasa Indonesia ini maka pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dan universitas di Australia mulai kehilangan peminatnya? Dibanding pada tahun 1970 hingga 1980 bahasa Indonesia pernah diajarkan ke seluruh sekolah di negara bagian dan di 20 universitas.  Kini peminat bahasa Indonesia turun drastis mencapai 37% pada akhir dekade ini. Menurut Professor David Hill dalam siaran radio Australia, turunnya minat masyarakat Australia untuk belajar bahasa Indonesia disebabkan oleh berbagai hal.

Salah satunya adalah kurang populer negara Indonesia. Indonesia kurang melakukan promosi negaranya dibanding negara lain. Dan juga larangan turisme oleh Department of Foreign Affairs untuk bepergian ke Indonesia menyebabkan lesunya minat untuk belajar bahasa Indonesia (baca di sini).  Program dari PM Kevin RUdd “National Asian Languages and Studies in Schools” yang merupakan daya dorong untuk mempelajari bahasa Indonesia di sekolah dan universitas di Australia juga telah ditinggalkan.

Kesalahan persepsi tentang Indonesia memang diakui oleh banyak orang, demikian kira-kira menurut survey yang dilakukan pada tahun 2011 oleh Lowy Institute.  Dalam survey tersebut sebanyak 77% respondent menyatakan pentingnya untuk punya hubungan dekat antara Australia dan Indonesia di masa depan. Tapi di lain pihak respondent sebanyak 69% menganggap bahwa Indonesia adalah negara diktator dan dibawah kontrol militer. Dan 52% melihat Indonesia sebagai negara yang telah menjalankan demokrasi. Jika persepsi tentang Indonesia ini tidak segera dirubah, maka diperkirakan sepuluh tahun lagi bahasa Indonesia benar-benar akan menghilang dari bahan pengajaran di sekolah dan universitas di Australia selain di negara bagian Victoria dan Northern Territory. (Informasi lebih lengkap bisa download tulisan Professor David Hill di sini) atau juga kunjungi situs ini. Mempelajari bahasa asing memang selamanya tidak mudah.  Namun bukan berarti tidak bisa dan tidak perlu. Bahkan menjadi antipati.

Jika orang Australia merasa enggan untuk belajar bahasa Indonesia karena image negara Indonesia yang negatif di mata mereka, maka hal sama juga berlaku bagi bangsa kita.  Enggan belajar bahasa Inggris karena image negara sumber bahasa Inggris itu. Belum lagi jika penguasaan bahasa Inggris memicu kecemburuan sosial atau sok dianggap jaga image oleh sebagian kalangan.  Padahal bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang memudahkan kita untuk transfer ilmu dan teknologi.

Banyak kalangan masyarakat Australia yang belum mengerti faktor pentingnya peranan dan keberadaan Indonesia di masa depan buat Australia. Dengan penduduk yang kini mencapai 245 juta jiwa, potensi pasar ekonomi Indonesia buat Australia tidak bisa diremehkan begitu saja. Pada tahun 2012 kemarin, diperkirakan jumlah perusahaan Australia di Indonesia sudah mencapai sekitar 400 perusahaan. Dan ini akan bertambah di masa-masa dekade mendatang. Kita sebagai orang Indonesia juga tidak kalah pentingnya untuk belajar bahasa Inggris untuk menghadapi persaingan tenaga kerja di masa depan.*** (HBS)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hsancoko/bahasa-indonesia-lebih-sulit-daripada-bahasa-inggris_552ac069f17e61703ad623a6

Incoming search terms:

  • transelit bahasa Indonesia ke bhsa inggris
  • transelit google bahasa jawa
Read More


Kami menawarkan jasa terjemah berkualitas dengan biaya terjangkau dan hemat. Untuk panduan penetapan biaya terjemah ditentukan berdasarkan deadline terjemah. Berikut beberapa pilihan tarif terjemah bahasa inggris yang kami tawarkan:

Paket/Deadline PengerjaanInggris-IndonesiaIndonesia-Inggris
Kilat Kurang Dari 12 JamRp30.000Rp35.000
1 HariRp24.000Rp26.000
2 HariRp23.000Rp25.000
3 HariRp22.000Rp24.000
4 HariRp21.000Rp23.000
5 HariRp20.000Rp22.000
6 HariRp19.000Rp21.000
1 Minggu (Hemat)Rp15.000Rp17.000
2 Minggu (Super Hemat)Rp10.000Rp12.000
Abstrak (1-3 Hari)Rp40.000

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Incoming search terms:

  • transelit bahasa inggris
  • transelit bahasa inggris ke indonesia
  • transelit bahasa inggris ke bahasa indonesia
  • translit terjemahan
  • transelit inggris indonesia
  • terjemaah inggris ke indonesia
  • terjemaah indonesia ke inggris
  • kamus transelit
  • kamus indo inggria
  • Transelit bhs inggris
Read More


Belajar terjemah bahasa Inggris secara tepat harus dilakukan setiap orang dalam semua jenjang pendidikan.

Pasalnya, kebutuhan akan pengetahuan pemahaman bahasa Inggris sangat penting untuk membaca berbagai sumber ilmu pengetahuan dan informasi. Hal ini dapat dimulai dengan fokus pada kemampuan membaca dan menerjemahkan teks bahasa Inggris, baik berupa artikel, buku, koran, website, maupun sumber bacaan lainnya. Apa saja yang mesti dilakukan untuk menerjemahkan bahasa Inggris dengan baik dan benar?

Yang paling pertama harus dilakukan dalam belajar terjemah bahasa Inggris adalah memahami teori membaca dengan pendekatan empirik, yaitu Skills Theory (Teori Keterampilan), menganggap bahwa kemampuan membaca terdiri dari keterampilan-keterampilan membaca yang saling berkaitan (inter-related reading skills). Keterampilan-keterampilan ini terdiri dari keterampilan-keterampilan pokok (macro-skills) dan micro-skills sebagai bagian-bagiannya.

Dari sekian banyak reading skills yang dikemukakan oleh para ahli, ada sekitar lima keterampilan pokok. Yaitu:

1. Menemukan arti kata dalam konteks bacaan. (Deducting the meanings of words from contexts)

Menemukan arti kata dalam konteks bacaan ialah dengan cara melihat kata- kata atau frasa yang mendahului atau mengikuti kata tersebut sehingga dapat diketahui fungsi, jenis kata, dan arti kata tersebut yang tepat dalam bacaan itu.
Contoh:
a.  Because of the heavy rain, some students were not present at the flag ceremony this morning.
(present dalam konteks kalimat ini adalah kata sifat/keadaan dan berarti ‘hadir’).
b. This procedure may not be suitable, at least for the present condition.
(present dalam kalimat ini juga sebagai kata sifat/keadaan, tetapi arti yang tepat adalah ‘sekarang ini’).

2. Memahami bentuk dan arti frasa-frasa non-idiomatik (Understanding the forms and meanings of non-idiomatic phrases)

Berbeda dari frasa-frasa idiomatik yang bentuk dan artinya sudah tetap demikian sehingga cenderung sebagai materi hafalan, maka frasa-frasa non-idiomatik dibentuk berdasarkan kaidah-kaidah tertentu dan tak terbatas jumlahnya. Frasa non-idiomatik yang terutama adalah:

  1. Frasa benda (Noun Phrases)
    Contoh:
    This specially equipped plane flies at a height of 30,000 feet and at a speed af 500 miles an hour.
    (= pesawat yang diperlengkapi secara khusus ini)
    b. Frasa Gerundium (Gerund Phrases)
    Contoh:
    Smoking too much is not good for health.
    (= merokok terlalu banyak)
    c. Frasa Infinitif (Infinitive Phrases)
    Contoh:
    To write a thesis requires careful preparations.
    (= menulis tesis)
    To write a thesis, a student needs much reading and thought about the problem.
    (= untuk menulis tesis)

3. Memahami arti kalimat melalui struktur sintaksis (Understanding sentence meaning through syntactical structures)

Keterampilan ini merupakan aplikasi pengetahuan grammar khususnya syntax dalam mengidentifikasi kata, frasa, atau sub-klausa yang berfungsi sebagai unsur inti kalimat (Subjek, Predikat, Objek, Keterangan, atau Komplemen). Kesulitan biasanya dijumpai apabila kalimat tersebut kompleks atau mengikuti pola-pola kalimat tertentu yang kurang biasa dalam Bahasa Indonesia.
Contoh:
His idea to leave the course  sounds  strange to us.
S                                  P             Komp
The clerk  can get  the letter  done for you.
S              P              O              Komp.

4. Mengenal dan memahami struktur-struktur retorik (Recognizing and understanding rhetorical structures)

Struktur Retorik merupakan jalinan hubungan antara makna fungsional yang digambarkan oleh unsur-unsur ba­hasa dalam suatu teks bacaan. Struktur ini merupakan kerangka landasan suatu teks dan berkaitan erat dengan tipe topik yang ditulis, tujuan penulis, dan pembaca yang dituju oleh penulis.

Keterampilan mengenal dan memahami struktur retorik ini mencakup pemahaman terhadap arti dan fungsi kata-kata, frasa, tanda baca, dan struktur-struktur tertentu yang digunakan penulis untuk menggambarkan atau menyampaikan ide atau pesan yang ingin dikemukakannya.

Struktur retorik ini ada yang secara eksplisit tergambarkan dengan adanya penanda wacana (discourse markers) tertentu dan ada yang hanya dikenal melalui keterbiasaan (familiarity) pembaca dengan bentuk pengorganisasian teks bacaan dalam Bahasa Inggris.
Struktur retorik ini dijumpai pada tingkat (level) kalimat, alenia atau antarkalimat, dan pada tingkat bacaan secara keseluruhan.
Contoh:
a. Pada tingkat Kalimat
Memahami arti kata/frasa penghubung dan sifat hubungan yang digambarkannya (contrast, causal, condition, emphasis, etc.)
1)  Memahami tanda-tanda bacaan tertentu (additive, inserti­on, conclusive/explanatory)
– ….. since motivation can arouse, sustain, and even
direct the learning behaviour of student, (additive)
2)  Memahami gaya-gaya bahasa (figures of speech)
– The heat of Arabia came out like a drawn sword and struck us speechless, (simile)
– You could have knocked me down with a feather. (hyperbole)
3)  Memahami bentuk-bentuk Eliptik dan Inversi
– Gardening for some people is a pleasant recreation, to others an absorbing hobby. (=     ,    to others

5. Keterampilan Membaca Kritis (Critical Reading Skills)

  1. Memahami tujuan, sudut pandang, dan nada penulis.
    1)  Memahami tujuan penulis
    Misalnya, penulis bermaksud memberikan informasi, mengajukan suatu ide, atau bermaksud mempengaruhi pembaca, dan sebagainya.
    2)     Memahami sudut pandang penulis
    Misalnya, penulis melihat suatu masalah dari sudut ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan sebagainya.
    3)     Memahami nada penulis
    Misalnya penulis bernada humor, serius, ironik, sarkastik, dan sebagainya.
    b. Membuat Inferensi, generalisasi, dan konklusi
    c.  Menilai sumber acuan penulis
    Misalnya, penulis berdasarkan fakta, atau berdasarkan inferensi, atau mungkin hanya berdasarkan opini. Contoh:
    Seorang asing lewat di depan rumah kita dan mengatakan ‘Awan tampaknya gelap sekali’, “Hari akan segera Hujan” ‘Cuaca di daerah Anda ini tidak menyenangkan’. Pernyataannya yang pertama ada­lah suatu ‘fakta’ yang dapat diverifikasi; yang kedua merupakan suatu ‘inferensi’; sedangkan yang ketiga adalah ‘opini’ yang merupakan pendapat, kesan, atau keyakinan pribadinya.
  2. Menilai tata-tulis dan bahasa penulis
    1)     Ketepatan penggunaan kata, frasa, kalimat, dan ungkap- an-ungkapan
    2)     Pengembangan kerangka berpikir (frame of thought)
    3)     Pengurutan (sequences)
    4)     Perlu atau tidaknya suatu informasi (relevant/irrelevant information)

Inilah keterampilan-keterampilan membaca yang esensial yang merupakan aplikasi dari pengetahuan atau penguasaan grammar dan kosa kata Bahasa Inggris, organisasi teks bacaan; dan didukung oleh latar belakang pengetahuan yang terkait dengan topik bacaan serta kemampuan kogntif yang memadai.

Untuk menerjemahkan bahasa Inggris, di samping pemahaman teks bacaan dituntut juga penguasaan bahasa Indonesia yang baik agar terjemahan tersebut dapat dimengerti dengan jelas oleh pembaca tetapi tidak bergeser dari ungkapan arti teks bahasa Inggris yang diterjemahkan. Pemahaman ini sangat penting dalam segala bidang aspek ilmu bahasa Inggris, tidak terkecuali bagi yang ingin menguasai materi tes TOEFL, baik PBT, CBT, maupun iBT.

 

Incoming search terms:

  • translit bahasa inggris ke indonesia
  • translate bahasa inggris ke bahasa indonesia
  • translate bahasa inggris ke indonesia
  • terjemah inggris indonesia
  • translet bahasa inggris
  • Terjemaah bahasa inggris
  • Translit bahasa indonesia ke bahasa inggris
  • Translite indonesia inggris
  • translit bahasa inggris
  • translet bahasa inggris ke indonesia
Read More